welcome!

Don't judge a book from its cover, but you can judge me from the books in my BOOKCASE.

Tuesday, 25 January 2011

TuneUp Utilities 2011, Memaksimalkan Kerja Sistem Operasi


TuneUp Utilities 2011 adalah software aplikasi pelengkap yang bekerja untuk memaksimalkan sistem operasi komputer. Aplikasi ini dirancang dengan baik yang dapat mengakses seluruh perangkat pemelihharaan Windows. Aplikasi ini cepat dan mudah digunakan karena memiliki modul-modul yang saling terhubung.

Aplikasi ini memiliki temp file management, registry cleaners, dan start-up program controls yang dapat me-rewrite registry Windows untuk mempercepat kerja sistem operasi dan memperkecil kerusakan. Selain itu, aplikasi ini juga dapat menghapus data dari harddisk sampai benar-benar bersih. Aplikasi ini mendukung beberapa perangkat add-on yang tidak terdapat pada aplikasi utiliti sejenis. TuneUp Utilities juga dapat meningkatkan kinerja komputer secara sinifikan.

TuneUp Utilities 2011 dirancang untuk menjaga kinerja dan memperpanjang usia PC, juga mempercepat performa komputer. Dengan adanya sejumlah fitur baru yang tidak ada di versi sebelumnya, aplikasi ini memudahkan pengguna dalam mengatasi masalah yang sering terjadi pada sistem operasi yang berkaitan dengan kinerjanya.

Aplikasi ini memiliki lisensi dari TuneUp Corporation, yang dapat diunduh versi trial-nya untuk pemakaian selama 15 hari. Jika ingin mendapatkan versi lengkapnya, aplikasi ini dapat dibeli seharga $49.95.

TuneUp Utilities 2011 dapat diaplikasikan oleh pengguna Windows 7, Windows XP, dan Windows Vista, baik itu versi 32-bit ataupun 64-bit.

Untuk mengaplikasikan TuneUp Utilities 2011, langkahnya sangat mudah dan cepat. Terlebih dahulu unduh file TuneUp Utilities di sini. Besar file-nya adalah 19.57 MB. Setelah file-nya terunduh, ikuti langkah penginstalan seperti berikut:

  • Klik file yang telah diunduh sehingga muncul tampilan berikut:
image
  • Klik tombol NEXT sehingga muncul tampilan license agreement, lalu klik tombol I ACCEPT.
image
  • Setelah itu proses instalasi akan berjalan.
image
  • Setelah proses instalasi selesai, akan muncul tampilan berikut. Lalu klik FINISH.
image
  • TuneUp Utilities siap digunakan. Tinggal memilih mode yang akan digunakan.


image



Kelebihan TuneUp Utilities 2011 adalah dapat meningkatkan akselerasi program komputer dan internet. Aplikasi ini juga dapat mencegah kerusakan file ataupun membersihkan komputer dari file-file yang tidak diinginkan. Terdapat juga scheduler untuk mengatur jadwal pemeliharaan Windows. Selain itu, mode RescueCenter dapat mengembalikan perubahan ataupun kesalahan satu per satu dengan sempurna. Aplikasi ini sangat cocok untuk pengguna dari semua level, mulai dari pemula yang lebih memilih option sekali klik, sampai ke pengguna yang lebih mahir dan berpengalaman dalam men-setting komputer.

Yang menjadi kelemahan TuneUp Utilities 2011 adalah ketika menjalankan aplikasi ini, ada kemungkinan beberapa program atau aplikasi lain akan ter-uninstall. Hal ini terutama saat menjalankan cleaner-nya sehingga beberapa pengguna harus me-reinstall aplikasi-aplikasi yang ter-uninstall tersebut.

Jika dibandingkan dengan aplikasi sejenis, sebut saja system tools bawaan Windows seperti Disk Cleanup dan Disk Defragmenter, fungsi utamanya tentu sama saja. Namun, TuneUp Utilities 2011 kinerjanya lebih cepat, lebih mudah pengoperasiannya, lebih optimal dalam membersihkan, dan memiliki fungsi tambahan lain seperti dapat mempercantik tampilan Windows.

TuneUp Utilities 2011 adalah aplikasi dengan kinerja yang cepat dan optimal. Berkaitan dengan sangat pentingnya kinerja sistem operasi, perawatan harddisk komputer, dan akselerasinya dengan koneksi internet,  maka TuneUp Utilities 2011 bisa menjadi pilihan tambahan bagi mereka yang membutuhkan kecepatan dan optimalisasi sistem operasi komputer.


sumber: http://download.cnet.com/TuneUp-Utilities-2011/3000-18512_4-10206416.html
Continue reading...

ImgBurn, Aplikasi Pembakar Gambar


ImgBurn adalah software berupa aplikasi ringan untuk membakar (burn) CD/DVD/HD DVD/Blu-ray yang file atau folder-nya berisi  gambar. ImgBurn memiliki beberapa mode yang memiliki fungsinya masing-masing, yaitu:
  • Read, untuk membaca file gambar.
  • Build, untuk membuat file gambar yang diambil dari file komputer atau dari jaringan, atau dapat juga ditulis langsung ke disk.
  • Write, untuk menulis file gambar ke  disk.
  • Verify, untuk memastikan disknya 100% terbaca. Juga bisa digunakan untuk memastikan file-nya benar.
  • Discovery, digunakan bersama dengan DVDInfoPro, untuk memastikan kualitas disk yang telah dibakar atau dihasilkan.
ImgBurn adalah aplikasi yang dapat diunduh secara gratis. Namun, software ini sebaiknya tidak digunakan untuk membuat bajakan dari disk-disk yang memiliki hak cipta.

ImgBurn dapat digunakan untuk membakar file gambar dengan format BIN, CCD, CDI, CUE, DI, DVD, GI, IMG, ISO, MDS, NRG dan PDI. Aplikasi ini juga bisa digunakan untuk membuat disk DVD Video, HD DVD Video, dan Blu-ray Video dengan mudah. Selain itu, ternyata bukan hanya gambar, ImgBurn juga bisa membakar CD audio dari file apapun yang didukung DirectShow/ACM, termasuk juga AAC, APE, FLAC, M4A, MP3, MP4, MPC, OGG, PCM, WAV, WMA dan WV.

ImgBurn dapat berfungsi di semua sistem operasi Windows, mulai dari Windows 95, Windows 98, Windows Me, Windows NT4, Windows 2000, Windows XP, Windows 2003, Windows Vista, Windows 2008, dan Windows 7 (termasuk semua versi 64-bit). Aplikasi ini juga bisa digunakan pada sistem operasi Linux.

Untuk mengaplikasikan ImgBurn, proses instalasinya sangat mudah dan cepat. Jika belum memiliki software aplikasi ImgBurn, file-nya sangat mudah didapatkan di internet dan dapat diunduh dengan gratis. Setelah itu, ikuti langkah penginstalan seperti berikut:
  • Klik file yang telah diunduh sehingga muncul tampilan berikut:
image
  • Klik pada tombol NEXT sehingga muncul tampilan untuk memilih komponen. Beri tanda cek pada komponen yang ingin diinstal.  Kemudian klik tombol NEXT.
image
  • Setelah itu akan muncul tampilan untuk memilih folder penginstalan. Klik BROWSE jika ingin memilih folder lain. Klik NEXT untuk melanjutkan.
image
  • Setelah itu, muncul tampilan untuk memilih shortcut. Lalu klik INSTALL.
image
  • Setelah itu proses instalasi akan berjalan. Sebelumnya klik YES untuk menyimpan pengaturan sebelumnya.
image
  • Setelah proses instalasi selesai, klik FINISH.
image
  • ImgBurn siap untuk dioperasikan. Tinggal memilih mode yang akan digunakan.
image

ImgBurn adalah aplikasi yang sangat fleksibel dengan beberapa keunggulan yang jarang dimiliki aplikasi lain yang sejenis, khususnya dalam membakar disk DVD video. Aplikasi ini dapat dijalankan pada semua drive keluaran terbaru tanpa perlu meng-update. ImgBurn juga memiliki sistem antrian ketika sedang membakar beberapa gambar yang dapat dibagi dalam beberapa drive, jika memang memiliki lebih dari satu.

Satu-satunya kekurangan dari ImgBurn adalah aplikasi ini tidak dapat membakar multisession disk. Multisession disk adalah sebuah disk yang dapat ditulis kembali atau dapat digunakan lebih dari sekali proses pembakaran. Jika terdapat spasi kosong dalam disk pada saat pertama kali dibakar, disk tersebut masih bisa ditulis kembali jika diperlukan, seperti CD-R.

Selain itu, jika dibandingkan dengan aplikasi pembakar disk bawaan komputer semisal Nero, ImgBurn masih kalah lengkap. Nero adalah aplikasi yang dapat digunakan untuk membakar berbagai bentuk file seperti teks, gambar, suara, dan video. Sedangkan ImgBurn hanya mendukung file gambar saja.

ImgBurn adalah aplikasi yang cukup berguna bagi mereka yang punya ketertarikan lebih pada gambar dan video, atau mereka yang suka mengunduh Youtube dan ingin menyimpan file-nya pada sebuah disk. Walaupun sebenarnya untuk melakukan pekerjaan membakar gambar dan video masih dapat dilakukan dengan aplikasi bawaan yang ada di komputer, ImgBurn bisa menjadi pilihan tambahan yang cukup bermanfaat.


sumber: http://www.imgburn.com/
Continue reading...

Friday, 18 June 2010

Sentuhan Pembawa Bencana


Ini dia buku yang baru saja selesai saya baca. THE TOUCH karya Daniel Keyes. Sebenarnya buku ini buku terbitan lama, keluaran tahun 1968! Sudah lama sekali memang, tapi saya baru sempat membacanya setelah 42 tahun buku ini ditulis. Awalnya saya memutuskan untuk membaca The Touch setelah terpesona oleh karya Daniel Keyes yang lain, Flowers for Algernon, yang sudah saya bahas di sini. Sayapun berniat untuk membaca karya-karya Daniel Kayes, dan pergilah saya ke sebuah toko buku diskon untuk membeli SEMUA buku Daniel Keyes. The Touch adalah yang pertama saya baca.

The Touch bercerita tentang Barney Stark, seorang pematung yang bekerja di divisi disain sebuah perusahaan pembuat mobil. Kehidupannya berjalan normal sampai pada satu hari terjadi sebuah bencana di divisi riset di perusahaan tersebut. Telah terjadi kecelakaan yang menyebabkan terjadinya tumpahan radioaktif di laboratorium pusat riset. Dari buku ini saya baru tahu ternyata radiasi—yang berasal dari Iridium 192—diperlukan oleh industri mobil dalam banyak hal seperti untuk melacak ketebalan cat pada bodi mobil, mengecek cacat-cacat pada cetakan, dan lain-lain.

Awalnya pihak perusahaan menyatakan bahwa tumpahan radiasi dapat diatasi dengan tuntas, dan tidak ada debu radioaktif yang tersebar keluar. Namun dengan semua langkah-langkah yang telah diambil, ternyata masih ada juga celah yang terlewatkan. Mereka lupa membersihkan sistem ventilasi. Saat pendingin udara dinyalakan, debu radiasi tertiup ke ruang seorang staf divisi riset, Max Prager, yang selalu pergi ke kantor dan pulang bersama Barney dalam satu mobil. Akhirnya debu radioaktif tersebar ke setiap benda yang Max sentuh, termasuk Barney dan mobilnya. Dan seperti efek domino, Barney-pun menyebarkan debu radioaktif itu ke dalam rumahnya, istrinya, dan semua yang ia sentuh di manapun ia berada.

Mereka akhirnya teradiasi dengan gejala muntah-muntah dan muncul luka bakar pada tubuh mereka. Setelah berita tersebar, merekapun disalahkan atas penyebaran debu radioaktif di seluruh kota. Walaupun di buku ini diceritakan tentang penderitaan fisik yang mereka alami, namun di sini penulisnya lebih menekankan pada penderitaan mental dan psikologis. Di buku ini digambarkan bagaimana rasanya berada pada posisi yang disalahkan oleh semua penduduk kota karena telah menyebarkan radiasi, walaupun sebenarnya ia sama sekali tidak terkait dengan kecelakaan yang menyebabkan tumpahan radioaktif itu, dan ia sendiri sebenarnya tertular debu radioaktif dari orang lain yang kebetulan semobil dengannya. Ditambah lagi istrinya sendiri—yang ternyata sedang mengandung—juga ikut menyalahkannya karena tidak diragukan lagi janin yang dikandungnya pasti juga ikut teradiasi.

Semua perlakuan yang diterima oleh Barney menumbuhkan kebencian yang begitu besar dalam dirinya. Bila seseorang tersakiti karena sesuatu yang tidak ia pahami, tentu harus ada orang yang dipersalahkan. Tapi jika tidak ada orang lain yang bisa disalahkan, maka jalan satu-satunya adalah menyalahkan diri sendiri. Membaca buku ini mungkin akan membuat kita sedikit memahami sebuah kepedihan yang mendalam, gangguan psikologis yang bisa dibilang mendekati gila.

Buku ini cukup menarik, tapi menurut saya kekurangannya adalah buku ini terlalu tipis. Cerita diakhiri ketika istri Barney melahirkan bayi mati, yang sebenarnya sudah mati sejak lama saat masih berada dalam kandungan. Akan lebih baik jika dibuat cerita si bayi akan hidup dengan cacat-cacat akibat radiasi. Bukan karena saya suka dengan penderitaan orang lain, tapi setelah selesai membaca The Touch saya kok merasa ceritanya nanggung. Kalau halamannya ditambah sedikit lagi saja, ceritanya mungkin bisa dieksplorasi lebih dalam lagi. Sayangnya bukan saya yang menulis buku ini... ^___^
Continue reading...

Wednesday, 21 April 2010

OUT: Mencari Jalan Keluar atau Lari dari Masalah?



Kekerasan memang bukan jawaban, tapi satu-satunya jawaban. ~ Joseph Stack
Masako Katori, Yayoi Yamamoto, Yoshie Azuma, dan Kuniko Jonouchi adalah empat orang wanita yang bekerja shift malam di sebuah pabrik makanan kotakan di tengah-tengah distrik Musashi-Murayama. Selain mempekerjakan banyak orang Brazil—murni ataupun keturunan Jepang—pabrik tersebut juga menerima para ibu rumah tangga yang ingin bekerja paruh waktu. Di pabrik itu mereka membuat makanan kotakan dengan beberapa menu. Mirip-mirip nasi kotak yang biasa kita makan kalau sedang ada acara tertentu. Bedanya sih makanan kotakan yang mereka buat itu untuk dijual di mini mart untuk sarapan, makan siang, ataupun makan malam.

Masako, Yayoi, Yoshie, Kuniko, dan para pekerja lainnya melakukan pekerjaan yang relatif sama setiap malam. Misalkan untuk membuat kare untuk makan siang, beberapa orang bertugas meratakan nasi, menambah saus kare, mengiris ayam goreng, dan meletakkan irisan ayam di atas kare. Di bagian lain, beberapa orang memasukkan acar ke dalam wadah-wadah kecil, memasang tutup wadah acar, menambahkan sendok, dan memasang tutup kotak makanan. Pekerjaan yang membosankan memang, tapi lumayan untuk menambah penghasilan para ibu rumah tangga seperti Masako, Yayoi, Yoshie, dan Kuniko.


Mereka sebenarnya hanyalah empat orang wanita biasa dengan kehidupan yang berbeda satu sama lain. Namun, satu hal yang membuat mereka sama—tentu saja selain sama-sama bekerja di pabrik makanan kotakan—adalah mereka tidak bahagia.
Masako hidup bersama suami dan anak laki-lakinya. Mereka berkecukupan secara materi, namun hidup tidak seperti layaknya keluarga karena mereka saling tidak peduli satu sama lain. Yayoi adalah wanita muda dan cantik, memiliki suami dan dua orang anak yang masih balita. Yayoi membenci suaminya karena suka berjudi, main perempuan, dan selalu memukulinya. Yoshie adalah janda yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia harus menghidupi anak perempuannya yang suka menghambur-hamburkan uang dan mertuanya yang lumpuh dan sakit-sakitan. Sedangkan Kuniko adalah wanita yang selalu bermimpi jadi orang kaya. Ia terjerat hutang dalam jumlah besar demi memenuhi hobinya membeli barang-barang bermerek.

Hidup mereka berjalan biasa-biasa saja sampai pada akhirnya sesuatu yang buruk terjadi. Suami Yayoi, Kenji Yamamoto, pulang pada larut malam dalam keadaan mabuk dan wajah penuh dengan bekas pukulan. Yayoi yang mencoba menanyakan hal tersebut, malah mendapat pukulan dari suaminya. Berusaha membela diri, Yayoi menjerat leher suaminya dengan tali hingga tewas. Yayoi yang panik lalu meminta bantuan teman-teman perempuannya untuk menyingkirkan mayat suaminya. Akhirnya diputuskan bahwa jalan keluar terbaik adalah dengan memutilasi mayat suaminya dan membuang potongan-potongannya di beberapa lokasi terpisah. Masalahpun terjadi ketika polisi menemukan potongan tubuh suaminya itu di tong sampah di sebuah taman. Yang terjadi selanjutnya membuat mereka tertimpa masalah demi masalah bertubi-tubi.


OUT
adalah salah satu novel kriminal paling keren yang pernah saya baca. Untuk penggemar cerita kriminal, buku ini hukumnya wajib dibaca! Penulisnya, Natsuo Kirino, menjadi pemenang Japan's Grand Prix for Crime Fiction berkat bukunya ini. Jadi tidak diragukan lagi bagaimana kualitas tulisannya. Penulisnya bisa membuat sebuah cerita kriminal yang tidak biasa, dan mampu menggambarkannya dengan sangat gamblang. Saya menyebutnya cerita kriminal yang indah dan artistik. Saya begitu tersedot ke dalam cerita sampai lupa waktu. Buku ini membuat ketagihan. Sekali pegang, dijamin tidak bisa melepaskan buku ini.

Satu hal yang luar biasa dari buku ini adalah saat penulisnya menceritakan—tepatnya menggambarkan—suatu proses mutilasi dengan begitu jelas, tahap per tahap. Alat-alat apa saja yang harus disiapkan, bagian tubuh yang mana yang harus pertama dipotong, bagian-bagian tubuh yang mana yang selanjutnya dipotong, semuanya dijabarkan secara berurutan dan sistematis. Agak vulgar memang, dan bisa berbahaya juga karena bisa menjadi panduan untuk yang ingin melakukannya. Apalagi menurut saya, sebagai seorang penggemar cerita kriminal, mereka yang menyukai cerita kriminal biasanya sedikit "sakit jiwa" seperti saya. Oleh karena itu, para penggemar cerita kriminal punya kecenderungan lebih untuk melakukan tindak kriminal. Sudah terbukti tidak sedikit mereka yang melakukan pembunuhan mendapat panduan dari buku kriminal yang dibacanya.


Tidak kalah hebatnya juga, sang penulis di bukunya ini menjadikan mutilasi sebagai lahan bisnis. Dalam buku ini diceritakan bagaimana akhirnya polisi menemukan potongan tubuh Kenji Yamamoto di tong sampah di sebuah taman. Walaupun Masako, Yayoi, Yoshie, dan Kuniko sempat ditanyai oleh petugas polisi, namun yang menjadi tersangkanya adalah seorang anggota Yakuza. Merasa bisa lepas dari tuduhan, dan dengan keyakinan bahwa polisi tidak akan mencurigai ibu rumah tangga, merekapun akhirnya menjadikan mutilasi sebagai tambang uang dengan menawarkan jasa mutilasi kepada para penjahat yang ingin menghilangkan jejak pembunuhan. Sungguh luar biasa!

Continue reading...

Sunday, 7 February 2010

Ide Brilian Ada di Bawah Pohon


Ada hal yang menarik yang saya temukan ketika membaca buku Middlesex karya Jeffrey Eugenides. Buku ini sudah saya bahas di tulisan saya sebelumnya. Untuk membacanya kembali, silakan lihat di sini.

Dari buku tersebut, saya sadar bahwa kita janganlah suka memandang sebelah mata pada orang yang sedang ngaso di bawah pohon. Jangan menilainya sedang bermalas-malasan saja di bawah pohon. Selain sedang istirahat, atau mungkin sekadar cari angin, mungkin dia juga sedang mencari inspirasi besar yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh siapapun juga.

Menurut legenda China kuno, suatu hari Putri Si Ling-chi sedang duduk-duduk santai di bawah pohon murbei sambil minum teh. Tiba-tiba sebutir (atau sebuah, ya?) kepompong ulat sutra jatuh ke dalam cangkir tehnya. Sang Putri berusaha mengeluarkan kepompong itu dari cangkirnya, namun ia sadar kepompong itu mengembang dan mulai terbuka di dalam air tehnya yang panas. Kepompong itu ternyata berubah menjadi helaian benang. Sang Putri lalu memegang salah satu ujung benang itu, dan menyuruh seorang dayang untuk memegang ujung satunya lagi sambil terus berjalan untuk mengurai benang itu.
         mencoba mencari inspirasi di bawah pohon                  Pelayan itu berjalan melewati kamar

tidur sang Putri, memasuki halaman istana, dan melewati gerbang istana sampai keluar dari Forbidden City (Kota Terlarang), dan akhirnya tiba di daerah perkampungan yang jaraknya setengah mil dari istana. Itulah awal mula ditemukannya kain sutra China yang terkenal ke seantero dunia. 

Cerita itu mungkin tidak banyak yang tahu. Tapi pasti semua orang tahu cerita tentang bagaimana Sir Isaac Newton—seorang ahli fisika, matematika, astronomi, dan filsafat—menemukan Hukum Gravitasi, yang mengubah pandangan orang terhadap hukum fisika alam dan menjadi dasar dari ilmu pengetahuan modern. Semua itu berasal dari pohon apel, saat Newton sedang duduk-duduk santai di bawahnya. Pada saat itu, tiba-tiba saja sebutir (atau ini juga sebuah, ya?) apel jatuh menimpa kepalanya. Dari apel yang jatuh itu, Newton mengambil kesimpulan bahwa ada suatu kekuatan yang menarik apel tersebut jatuh ke bawah, dan kekuatan itu yang kita kenal sekarang dengan nama gravitasi.

Nah, buat yang lagi buntu, lagi butuh ide, inspirasi, ilham, atau mungkin bisikan-bisikan gaib, sok silakan cari pohon terdekat.
Continue reading...

Saturday, 19 December 2009

Mengejar Kebenaran di Tokyo


Tentara Jepang melakukan pembantaian besar-besaran di Nanking saat mereka melakukan invasi ke China pada tahun 1937. Mereka melakukan pemerkosaan, perampasan, pembakaran, serta eksekusi terhadap tawanan perang dan penduduk sipil. Ini merupakan peristiwa paling tragis yang dialami bangsa China. Karena kekejamannya di Nanking, seorang letnan Jepang bernama Junzo Fuyuki mendapat julukan yanwangye— si Iblis.

Tokyo ditulis oleh penulis yang terkenal dengan novel-novel thrillernya, Mo Hayder. Hayder biasanya menulis novel-novel kriminal, dan walaupun Tokyo ditulis dengan memasukkan latar belakang sejarah, hasilnya tidak mengecewakan. Tokyo adalah buku wajib baca untuk penggemar cerita history-thriller.

Tokyo secara gamblang menggambarkan sejarah pendudukan Jepang di China, khususnya di daerah Nanking. Di buku ini diceritakan betapa kejamnya bangsa Jepang pada saat itu, di mana Jepang melakukan pembantaian yang sangat kejam di Nanking. Tentara Jepang membunuh penduduk Nanking, menumpuk mayat-mayat penduduk Nanking menjadi bukit mayat yang mengerikan, dan membakar habis desa mereka. Pembantaian di Nanking benar-benar menjadi sejarah pahit bagi Jepang dan China.

Walaupun banyak sekali flashback dalam buku ini, tapi alurnya sama sekali tidak membingungkan. Ceritanya berlatar tahun 1990, saat tokoh yang bernama Grey datang jauh-jauh datang dari London ke Tokyo, tinggal di apartemen kumuh, dan bekerja sebagai perempuan penghibur di club malam untuk membiayai hidupnya di Jepang, demi untuk mengungkap kebenaran pembantaian keji di Nanking pada tahun 1937. Keinginannya untuk mencari kebenaran sejarah di Tokyo, sudah menjadi obsesi seumur hidupnya. Bahkan obsesinya ini membuatnya terlibat masalah dengan bos Yakuza—mafia Jepang—yang melakukan banyak pembunuhan kejam terhadap orang-orang di sekitar Grey.

Kebenaran yang dicarinya di Tokyo ada pada seorang profesor di Universitas Todai, yang merupakan saksi hidup peristiwa pembantaian di Nanking. Obsesinya dalam mendapatkan jawaban atas semua pertanyaannya akan sejarah di Nanking menunjukkan bahwa kebenaran haruslah diungkapkan betapapun pahitnya, dan kebenaran ada dalam sejarah.
Continue reading...

Wednesday, 16 December 2009

Middlesex: Genetik XY, Fisik XX



Buku ini keren sekali! Sumpah keren sekali!

Middlesex, karya Jeffrey Eugenides, adalah buku international bestseller, pemenang Pulitzer Prize—penghargaan tertinggi di bidang jurnalisme cetak, dan menjadi buku pilihan di Oprah's Book Club.

Saya beruntung sekali bisa memiliki buku ini, apalagi mendapatkannya dengan gratis. Maka dari itu, alangkah tidak tahu dirinya saya kalau tidak berterima kasih pada teman saya, yang telah ridho bin rhoma memberikan bukunya—yang jauh-jauh didapatkannya dari menonton Kick Andy di Jakarta—kepada saya. Nuhun pisan. Kamu baik sekali, Ty!

Middlesex menceritakan tentang Calliope Stephanides—seorang yang berkelamin ganda—yang besar di pinggiran kota Detroit di tahun 1960an. Selama empat belas tahun Cal menjalani kehidupan sebagai anak perempuan. Suatu hari Cal mengalami kecelakaan yang membuatnya masuk rumah sakit, dan dokter yang menanganinya menemukan bahwa dia (juga) adalah seorang laki-laki.

Cal adalah seorang pseudohermaphrodite laki-laki, atau seseorang yang secara genetis adalah laki-laki, namun secara fisik perempuan. Dari tes endokrin, diketahui bahwa Cal mempunyai kromosom XY, level testosteron yang tinggi, dengan kurangnya enzim 5-alpha-reductase sehingga tubuhnya tidak memproduksi dihydrotestosteron. Artinya, ketika dalam rahim, ia mengalami perkembangan kelamin perempuan seperti pada umumnya. Namun, setelah memasuki masa puber, hormon testosteron mengambil alih peran perkembangan seksualnya.

Pertanyaan bagaimana bisa Cal menjadi seorang hermaprodit terurai dari sejarah dan asal usul keluarganya yang melakukan incest, atau perkawinan sedarah. Dampak perkawinan antarsaudara itu tidak muncul pada turunan-turunan sebelumnya, sampai akhirnya Cal yang mendapat getahnya. Kromosom kelimanya yang bermutasi resesif memaksanya menjalani kehidupan dan pendewasaan sebagai manusia berkelamin ganda.
Continue reading...

Wednesday, 9 December 2009

The Catcher in The Rye dan Gangguan Jiwa Bernama Post-Traumatic Stress Disorder



The Catcher in The Rye digambarkan sebagai bacaan favorit para remaja anti-sosial sampai psikopat. Kontroversi seputaran buku karangan J.D. Salinger yang diterbitkan pada tahun 1945 mengakibatkan buku ini dilarang beredar di Amerika Serikat karena isinya yang dianggap memicu tindakan negatif pada diri remaja.

Tokoh utamanya bernama Holden Caulfield, 17 tahun, seorang siswa sekolah lanjutan tingkat atas yang baru saja dikeluarkan dari Pencey Prep, sekolah ketiganya, sebelum dia dikeluarkan dari Elkton Hills dan Whooton School. Buku ini menceritakan petualangan, atau lebih tepatnya kekacauan, yang dialami Holden sejak dia meninggalkan Pencey dan memutuskan untuk tinggal di sebuah hotel dan berkeliaran di seputaran New York sebelum ia pulang ke rumah.

Salinger menggambarkan kehidupan Holden sebagai penghuni kelas atas New York, sehingga dengan uang yang dimilikinya, dia bisa berkeliaran di bar-bar mewah New York. Namun segala kelebihan yang ia miliki tidak dapat membebaskan dirinya dari pikiran-pikiran pesimis dan pandangan sinis terhadap dunia dan orang-orang disekitarnya. Holden membayangkan masa depannya “apabila tidak berakhir dengan bunuh diri, maka akan berakhir di rumah sakit jiwa”.

Awal dari sikap sarkastik Holden digambarkan ketika ia mengalami trauma setelah kematian adiknya, Allie, akibat kanker pada saat Holden berusia 13 tahun. Kondisi ini diperburuk dengan perubahan drastis sikap kakaknya D.B., yang baru pulang dari medan perang dan sejumlah kejadian di sekolahnya yang menyebabkan kehidupan sosialnya semakin terpuruk. Seperti ketika ia menyaksikan kematian teman sekelasnya, James Castle, yang melompat dari kamarnya karena diganggu oleh sekelompok siswa, namun para pelakunya tidak dikenai hukuman apapun.

Holden mengalami sebuah kondisi yang oleh American Psychiatric Association disebut sebagai Post-Traumatic Stess Disorder (PTSD) yang merupakan trauma kronis terhadap suatu kejadian yang dialami penderita. The Catcher in The Rye dapat dikatakan sebagai pionir penulisan novel yang menggambarkan narator atau orang pertamanya sebagai penderita PTSD, dan kita dipaksa untuk memasuki alam pikirannya yang kacau balau dan antah berantah. Dalam kasus Holden, ia beruntung memiliki adik perempuan, Phoebe, yang merupakan satu-satunya penghubung antara pikirannya dengan dunia luar.

The Catcher in The Rye merupakan karya terpopuler Salinger, karena walaupun sempat dilarang namun buku ini memiliki sejumlah penggemar yang menjadikannya sebagai panduan hidup atau dikalangan penggemar fanatiknya lebih dikenal dengan istilah “Holden Bible”.

Kontroversi novel Salinger ini kemudian menjadi sumber inspirasi bagi para penulis tentang PTSD yang terbit sesudahnya seperti Sylvia Plath, dan menginspirasi sejumlah band untuk membuat lagu yang didasarkan pada karakter Holden, salah satunya yaitu Greenday dalam Jesus of Suburbia. Bahkan penggemar fanatik John Lennon yang kemudian menembaknya, Mark David Chapman, ketika ditangkap polisi membawa novel karya Salinger ini, dan mengaku telah habis membacanya tepat pada pagi dimana ia menembak Lennon.

(Ally, penulis bukanlah seorang psikolog, cuma seorang sok tahu yang ingin memaparkan sedikit tentang buku favoritnya).
Continue reading...
A real book is not one that we read, but one that reads us.
W. H. Auden
 

bookcase Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
Cake Illustration Copyrighted to Clarice