welcome!

Don't judge a book from its cover, but you can judge me from the books in my BOOKCASE.
Showing posts with label New York. Show all posts
Showing posts with label New York. Show all posts

Wednesday, 9 December 2009

The Catcher in The Rye dan Gangguan Jiwa Bernama Post-Traumatic Stress Disorder



The Catcher in The Rye digambarkan sebagai bacaan favorit para remaja anti-sosial sampai psikopat. Kontroversi seputaran buku karangan J.D. Salinger yang diterbitkan pada tahun 1945 mengakibatkan buku ini dilarang beredar di Amerika Serikat karena isinya yang dianggap memicu tindakan negatif pada diri remaja.

Tokoh utamanya bernama Holden Caulfield, 17 tahun, seorang siswa sekolah lanjutan tingkat atas yang baru saja dikeluarkan dari Pencey Prep, sekolah ketiganya, sebelum dia dikeluarkan dari Elkton Hills dan Whooton School. Buku ini menceritakan petualangan, atau lebih tepatnya kekacauan, yang dialami Holden sejak dia meninggalkan Pencey dan memutuskan untuk tinggal di sebuah hotel dan berkeliaran di seputaran New York sebelum ia pulang ke rumah.

Salinger menggambarkan kehidupan Holden sebagai penghuni kelas atas New York, sehingga dengan uang yang dimilikinya, dia bisa berkeliaran di bar-bar mewah New York. Namun segala kelebihan yang ia miliki tidak dapat membebaskan dirinya dari pikiran-pikiran pesimis dan pandangan sinis terhadap dunia dan orang-orang disekitarnya. Holden membayangkan masa depannya “apabila tidak berakhir dengan bunuh diri, maka akan berakhir di rumah sakit jiwa”.

Awal dari sikap sarkastik Holden digambarkan ketika ia mengalami trauma setelah kematian adiknya, Allie, akibat kanker pada saat Holden berusia 13 tahun. Kondisi ini diperburuk dengan perubahan drastis sikap kakaknya D.B., yang baru pulang dari medan perang dan sejumlah kejadian di sekolahnya yang menyebabkan kehidupan sosialnya semakin terpuruk. Seperti ketika ia menyaksikan kematian teman sekelasnya, James Castle, yang melompat dari kamarnya karena diganggu oleh sekelompok siswa, namun para pelakunya tidak dikenai hukuman apapun.

Holden mengalami sebuah kondisi yang oleh American Psychiatric Association disebut sebagai Post-Traumatic Stess Disorder (PTSD) yang merupakan trauma kronis terhadap suatu kejadian yang dialami penderita. The Catcher in The Rye dapat dikatakan sebagai pionir penulisan novel yang menggambarkan narator atau orang pertamanya sebagai penderita PTSD, dan kita dipaksa untuk memasuki alam pikirannya yang kacau balau dan antah berantah. Dalam kasus Holden, ia beruntung memiliki adik perempuan, Phoebe, yang merupakan satu-satunya penghubung antara pikirannya dengan dunia luar.

The Catcher in The Rye merupakan karya terpopuler Salinger, karena walaupun sempat dilarang namun buku ini memiliki sejumlah penggemar yang menjadikannya sebagai panduan hidup atau dikalangan penggemar fanatiknya lebih dikenal dengan istilah “Holden Bible”.

Kontroversi novel Salinger ini kemudian menjadi sumber inspirasi bagi para penulis tentang PTSD yang terbit sesudahnya seperti Sylvia Plath, dan menginspirasi sejumlah band untuk membuat lagu yang didasarkan pada karakter Holden, salah satunya yaitu Greenday dalam Jesus of Suburbia. Bahkan penggemar fanatik John Lennon yang kemudian menembaknya, Mark David Chapman, ketika ditangkap polisi membawa novel karya Salinger ini, dan mengaku telah habis membacanya tepat pada pagi dimana ia menembak Lennon.

(Ally, penulis bukanlah seorang psikolog, cuma seorang sok tahu yang ingin memaparkan sedikit tentang buku favoritnya).
Continue reading...

Tuesday, 8 December 2009

Swangoing: Poisonous Method of Studying



poisoning is the most intelligent form of murder

BLIND EYE is a book written by James B. Stewart, the winner of the Pulitzer Prize. Blind Eye is a true story about Michael Swango, a serial killer, was suspected of having fatally poisoned more than 60 people between 1984 and 1997 as an intern or resident at a number of hospitals and health-care establishments. He may have poisoned and killed patients under his care over the past 10 years when he worked in Ohio, Quincy, Massachusetts, Virginia, South Dakota, New York, and Zimbabwe. In all those places, this affable doctor had been suspected in a number of deaths and sudden illnesses.

Swango did not often vary his methods of murder. With non-patients, such as his co-workers at the paramedic service, he used poisons, usually arsenic, slipping them into foods and beverages. With patients, he sometimes used poisons as well, but usually he administered an overdose of whichever drug the patient had been prescribed, or wrote false prescriptions for dangerous drugs for his patients.

When he was in medical school, he used to study while racing into the hall. Instead of studying days or weeks before the exams like the other students, he studied between exams. His classmates and lecturers called this method of studying as "swangoing" or "to swango". Now we all know it as "study in the last minutes", or "SKS:
Sistem Kebut Semalam".

After finishing my exams, i heard someone said "Goddamn SKS!" Oh.. you really don't know how great swangoing is. I am a BIG fan of swangoing. I always do my assignments and study for exams a night before, and sometimes couple hours before. I always do that because I know something good about swangoing: it is POISONOUS! Swangoing kills. Everytime I do swangoing, I am always scared of failing. But that is what I like most. I love that poison. That sensation, you know.. makes me live, energizes me.


Michael Swango was a murderer, and I know that I could be murdered, not by him but by his swangoing. And everytime I saved, I felt EXTREMELY satisfied.
Continue reading...
A real book is not one that we read, but one that reads us.
W. H. Auden
 

bookcase Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
Cake Illustration Copyrighted to Clarice