welcome!

Don't judge a book from its cover, but you can judge me from the books in my BOOKCASE.
Showing posts with label China. Show all posts
Showing posts with label China. Show all posts

Friday, 14 December 2012

5 Sins of Malaysians


There are some facts about the bad things that Malaysians have done us, the people of Indonesia. Even though Indonesia and Malaysia are neighboring countries, and also believed were originated from the same root, but Malaysia has been the most annoying neighbor all this time. I have compiled all of the sins into 5 biggest sins of Malaysians.

The first sin is trespassing Indonesian territories. Malaysia has been many times violating Indonesian territory, especially Indonesian waters. Malaysia has trespassed the waters near Riau Islands Province, the Malacca Strait, the South China Sea, the Sulawesi Sea, the waters north of Bintan and Batam Islands, and the Ambalat sea bloc. They trespassed Indonesian maritime territory with full armed warship. And what did we do? Indonesian Foreign Ministry only sent them diplomatic notes. The diplomatic notes are actually useless! Trespassing Indonesian territory means violating Indonesian sovereignty and dignity. As the people of Indonesia, we must do brave actions to face Malaysians.

The second sin is claiming Indonesian lands. There are several islands of Indonesia claimed by Malaysia. The most famous cases of land disputes between Indonesia and Malaysia are the Sipadan and Ligitan dispute and Ambalat block dispute. Both Indonesia and Malaysia previously claimed sovereignty over the Sipadan and Ligitan islands. The dispute was brought before the International Court of Justice and on 17 December 2002, decided that sovereignty of Sipadan and Ligitan belonged to Malaysia. Meanwhile, the Ambalat block dispute is still on-going negotiation. If we don’t want to lose another island, so we must do something. Indonesian navy ships must be alert around the Ambalat block. We don’t have to be afraid to fight Malaysia, even there will be a war against Malaysia, we have to defend our own territory.

The third sin is claiming Indonesian arts and cultures. I believe that the “Malaysia Truly Asia” slogan is used because actually Malaysians don’t have their original culture. They grabbed Malayan, Chinese, Indian, and Arabian cultures that make them lost their indigenous identity. That’s why they stole Indonesian cultures, such as Batik, Pendet Dance, Reog Dance, Angklung, Rasa Sayange song, and many others. Indonesia has done the right action by listing Indonesian cultures and arts as the world heritage originated from Indonesia to UNESCO. As the result, wayang, batik, and angklung have officially recognized as the Intangible Cultural Heritage by UNESCO.

The fourth sin is deforesting Indonesian forests. Malaysia was the number one oil palm plantation country in the world. But now the title belongs to Indonesia. But don’t be proud of that title because to open new oil palm plantation, forest should be burnt. And who do you think owned the oil palm plantations in Indonesia? It’s Malaysians! They cut down our trees, burn our forests, and kill our orangutans. They are truly criminals!

And last but not the least, the fifth sin is abusing Indonesian workers. Malaysia has long history in abusing Indonesian workers. They treat Indonesian workers like animals, even worse. Indonesian workers are slapped, kicked, beaten, even ironed and hot watered. Malaysians have crossed the limit. Indonesian government must stop sending Indonesian workers to Malaysia. I believe there are still many job opportunities in Indonesia or in other country beside Malaysia. Sending them to Malaysia is same like sending them to hell. Don’t let our sisters return home as dead bodies!

Those 5 biggest sins of Malaysians are unacceptable. Those sins can’t be forgiven. The only way to overcome the problem is by taking actions. Don’t just sit still and watch. We must stand up and do something. It’s for the sake of our own rights. We are not weak. We are a strong nation. I believe that we are way much better than Malaysians. Come on speak up and fight!

Continue reading...

Sunday, 7 February 2010

Ide Brilian Ada di Bawah Pohon


Ada hal yang menarik yang saya temukan ketika membaca buku Middlesex karya Jeffrey Eugenides. Buku ini sudah saya bahas di tulisan saya sebelumnya. Untuk membacanya kembali, silakan lihat di sini.

Dari buku tersebut, saya sadar bahwa kita janganlah suka memandang sebelah mata pada orang yang sedang ngaso di bawah pohon. Jangan menilainya sedang bermalas-malasan saja di bawah pohon. Selain sedang istirahat, atau mungkin sekadar cari angin, mungkin dia juga sedang mencari inspirasi besar yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh siapapun juga.

Menurut legenda China kuno, suatu hari Putri Si Ling-chi sedang duduk-duduk santai di bawah pohon murbei sambil minum teh. Tiba-tiba sebutir (atau sebuah, ya?) kepompong ulat sutra jatuh ke dalam cangkir tehnya. Sang Putri berusaha mengeluarkan kepompong itu dari cangkirnya, namun ia sadar kepompong itu mengembang dan mulai terbuka di dalam air tehnya yang panas. Kepompong itu ternyata berubah menjadi helaian benang. Sang Putri lalu memegang salah satu ujung benang itu, dan menyuruh seorang dayang untuk memegang ujung satunya lagi sambil terus berjalan untuk mengurai benang itu.
         mencoba mencari inspirasi di bawah pohon                  Pelayan itu berjalan melewati kamar

tidur sang Putri, memasuki halaman istana, dan melewati gerbang istana sampai keluar dari Forbidden City (Kota Terlarang), dan akhirnya tiba di daerah perkampungan yang jaraknya setengah mil dari istana. Itulah awal mula ditemukannya kain sutra China yang terkenal ke seantero dunia. 

Cerita itu mungkin tidak banyak yang tahu. Tapi pasti semua orang tahu cerita tentang bagaimana Sir Isaac Newton—seorang ahli fisika, matematika, astronomi, dan filsafat—menemukan Hukum Gravitasi, yang mengubah pandangan orang terhadap hukum fisika alam dan menjadi dasar dari ilmu pengetahuan modern. Semua itu berasal dari pohon apel, saat Newton sedang duduk-duduk santai di bawahnya. Pada saat itu, tiba-tiba saja sebutir (atau ini juga sebuah, ya?) apel jatuh menimpa kepalanya. Dari apel yang jatuh itu, Newton mengambil kesimpulan bahwa ada suatu kekuatan yang menarik apel tersebut jatuh ke bawah, dan kekuatan itu yang kita kenal sekarang dengan nama gravitasi.

Nah, buat yang lagi buntu, lagi butuh ide, inspirasi, ilham, atau mungkin bisikan-bisikan gaib, sok silakan cari pohon terdekat.
Continue reading...

Saturday, 19 December 2009

Mengejar Kebenaran di Tokyo


Tentara Jepang melakukan pembantaian besar-besaran di Nanking saat mereka melakukan invasi ke China pada tahun 1937. Mereka melakukan pemerkosaan, perampasan, pembakaran, serta eksekusi terhadap tawanan perang dan penduduk sipil. Ini merupakan peristiwa paling tragis yang dialami bangsa China. Karena kekejamannya di Nanking, seorang letnan Jepang bernama Junzo Fuyuki mendapat julukan yanwangye— si Iblis.

Tokyo ditulis oleh penulis yang terkenal dengan novel-novel thrillernya, Mo Hayder. Hayder biasanya menulis novel-novel kriminal, dan walaupun Tokyo ditulis dengan memasukkan latar belakang sejarah, hasilnya tidak mengecewakan. Tokyo adalah buku wajib baca untuk penggemar cerita history-thriller.

Tokyo secara gamblang menggambarkan sejarah pendudukan Jepang di China, khususnya di daerah Nanking. Di buku ini diceritakan betapa kejamnya bangsa Jepang pada saat itu, di mana Jepang melakukan pembantaian yang sangat kejam di Nanking. Tentara Jepang membunuh penduduk Nanking, menumpuk mayat-mayat penduduk Nanking menjadi bukit mayat yang mengerikan, dan membakar habis desa mereka. Pembantaian di Nanking benar-benar menjadi sejarah pahit bagi Jepang dan China.

Walaupun banyak sekali flashback dalam buku ini, tapi alurnya sama sekali tidak membingungkan. Ceritanya berlatar tahun 1990, saat tokoh yang bernama Grey datang jauh-jauh datang dari London ke Tokyo, tinggal di apartemen kumuh, dan bekerja sebagai perempuan penghibur di club malam untuk membiayai hidupnya di Jepang, demi untuk mengungkap kebenaran pembantaian keji di Nanking pada tahun 1937. Keinginannya untuk mencari kebenaran sejarah di Tokyo, sudah menjadi obsesi seumur hidupnya. Bahkan obsesinya ini membuatnya terlibat masalah dengan bos Yakuza—mafia Jepang—yang melakukan banyak pembunuhan kejam terhadap orang-orang di sekitar Grey.

Kebenaran yang dicarinya di Tokyo ada pada seorang profesor di Universitas Todai, yang merupakan saksi hidup peristiwa pembantaian di Nanking. Obsesinya dalam mendapatkan jawaban atas semua pertanyaannya akan sejarah di Nanking menunjukkan bahwa kebenaran haruslah diungkapkan betapapun pahitnya, dan kebenaran ada dalam sejarah.
Continue reading...

Tuesday, 8 December 2009

Benarkah CIA Terlibat Dalam Tragedi G 30 S/PKI?



"Mungkin kami memang terlibat dalam peristiwa itu. Saya sudah lupa..." -- William Colby, Direktur CIA Divisi Asia Tenggara periode 1962-1967.

Kebenaran bisa dicari dalam sejarah. Tapi bagaimana jika kebenaran sejarah itu sendiri masih dipertanyakan? Seperti Gerakan 30 September 1965, di mana para Jenderal TNI dibantai oleh PKI dan dibuang ke dalam lubang buaya. Banyak hal yang masih menjadi tanda tanya sampai sekarang mengenai peristiwa tersebut.

Mengapa PKI melakukan kudeta padahal pada saat itu Presiden Soekarno anti Barat dan lebih "sayang" pada China yang komunis? Pasti PKI punya posisi istimewa pada saat itu. Tapi mengapa mereka berkhianat?
Apakah Untung dan Aidit hanyalah alat dari pembantaian itu? Mungkin memang ada kekuatan besar di belakang mereka.
Benarkah CIA berencana membunuh Soekarno karena kedekatannya dengan komunis, seperti saat CIA membayar $ 42,000 untuk pembunuhan Presiden Vietnam Selatan, Ngo Dien Diem, atas persetujuan Presiden Kennedy?
Mengapa Soeharto lolos dari pembantaian 30 September, sedangkan Jenderal lainnya terbunuh?
Lalu apa hubungan Adam Malik dengan CIA dan Hubert Horatio Humphrey, Wakil Presiden Amerika Serikat pada saat itu?

Kabur. Tidak ada jawaban yang pasti. Yang pasti hanyalah, "Darah itu merah, Bung!"

The Forgotten Massacre ditulis oleh Peer Holm Jorgensen, seorang pelaut Denmark yang sudah berkeliling dunia dengan kapal dagang sejak umur 16 tahun. Dari perjalanannya tersebut, dia memperoleh pandangan dan pemikiran yang luas dan dalam tentang keragaman jenis politik, karakter masyarakat di seluruh dunia, pada masa dunia sedang sibuk dengan konflik internasional. Dan buku ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadinya ketika berada di Indonesia tahun 1965. Novel ini mengajak kita memandang Tragedi G 30 S/PKI dari kacamata orang asing dan dari sisi yang lebih humanis.

Biasanya orang Indonesia tidak begitu suka membaca tulisan orang asing mengenai Indonesia. Namun di sini penulis menunjukkan kecintaannya pada Indonesia dan masyarakatnya. Dalam buku ini kita akan banyak menemukan "pembelaan"nya atas keadaan yang terjadi di Indonesia. Menurutnya Indonesia indah dengan masyarakat yang ramah. Bahkan di buku ini ditegaskan bahwa Indonesia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki negara-negara lain di dunia.

Selain menunjukkan simpati pada Indonesia, di sini penulis jelas-jelas mengutuk penjajahan yang dilakukan oleh bangsa kulit putih. Ada yang salah dengan bangsa kulit putih. Penyakit apa yang mereka derita? Mengapa kekuasaan begitu penting? Mengapa begitu penting merampok orang-orang lain dari tanah dan negara mereka?

Dalam buku ini juga diungkapkan rasa kebencian penulis terhadap orang Inggris, Belanda, Jerman, dan bangsa apapun lainnya yang pergi untuk mencuri tanah orang lain, menindas mereka, memaksa meraka untuk mempercayai Tuhan tertentu yang mungkin sama sekali bukan Tuhan mereka, mencuri kekayaan mereka, menjadikan mereka budak, dan membiarkan mereka terus miskin. Termasuk juga kebenciannya pada Jepang, yang telah memperkosa Indonesia.

Bukan hanya itu. Ada hal menarik yang disinggung dalam buku ini, yaitu mengenai ketertarikan pada sesama jenis atau homoseksualitas. Di sini si penulis menanyakan kok bisa perempuan bisa tahu jika seorang pria itu homoseksual. Apakah perempuan punya indra keenam atau ketujuh?
*haha.. belum tau dia!! tanya ke si gue!*
Continue reading...
A real book is not one that we read, but one that reads us.
W. H. Auden
 

bookcase Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
Cake Illustration Copyrighted to Clarice