welcome!

Don't judge a book from its cover, but you can judge me from the books in my BOOKCASE.
Showing posts with label Flowers for Algernon. Show all posts
Showing posts with label Flowers for Algernon. Show all posts

Wednesday, 16 March 2011

Flowers for Algernon


Flowers for Algernon is a science fiction novel written by Daniel Keyes. It was published in 1966 and won Nebula Award for Best Novel.

Algernon is a laboratory mouse who had a surgery to increase his intelligence by artificial means. The story is told as a series of progress reports written by Charlie Gordon, the first human test subject for the surgery, and touches upon many different ethical and moral themes such as the treatment of the mentally disabled.

Charlie Gordon is a 32 year old man with an IQ of 68 who works as a janitor and deliveryman for Donner's Bakery. His uncle made him work there for 17 years that Charlie would not have to be sent to an institution, the Warren State Home. Wanting to improve himself, Charlie attends reading and writing classes at the Beekman College Center for Retarded Adults. He has an attractive young teacher there, Alice Kinnian.

Professor Nemur and Doctor Strauss, two Beekman researchers, are looking for a human subject on whom they can test an experimental surgical technique for increasing intelligence. They have already performed the surgery on a mouse named Algernon, leading to a dramatic improvement in his mental performance. Based on Alice's recommendation and his own motivation to learn, Charlie is picked to be their experiment subject and submit him to surgery.

The procedure is a success and three months later, Charlie's IQ has reached to 185. However, as his intelligence, education, and understanding of the world around him increases, his relationships with people decreases. His co-workers at the bakery are scared of his increased intelligence, and finally he’s fired from his job.

Charlie gets smarter and smarter. He reads many books and journals in many languages, even he has never learnt any foreign languages. He’s very genius. Scientists hate him, because he’s smarter than them. Even his beloved teacher, Alice, walks away from him. Although Charlie is a genius man, deep inside he’s still the same innocent Charlie like he was. He knows everything in this world, but he doesn’t even know anything about life, relationship, friendship, love and to be loved, or even how to cry. So, Charlie is a genius lonely man.

Since Charlie is very genius, he discovers a flaw in the theories of intelligence enhancing he has done. Algernon starts behaving irregularly, loses his intelligence, and dies. Charlie does further researches, he determines that he will be in that condition too. So he tries to fix the broken relationships with his parents, his sister, his friends, and Alice. That’s because he knows that his intelligent will decrease, and slowly but sure he will die like what happened to Algernon. He doesn’t want to be alone when he dies.

Time goes by, and Charlie goes back to his former self. Finally, he decides to live at the Warren State Home, because he knows he will be a retarded man as he was. In the end of his reports, he asks someone to put flowers on Algernon's grave.
Continue reading...

Friday, 18 June 2010

Sentuhan Pembawa Bencana


Ini dia buku yang baru saja selesai saya baca. THE TOUCH karya Daniel Keyes. Sebenarnya buku ini buku terbitan lama, keluaran tahun 1968! Sudah lama sekali memang, tapi saya baru sempat membacanya setelah 42 tahun buku ini ditulis. Awalnya saya memutuskan untuk membaca The Touch setelah terpesona oleh karya Daniel Keyes yang lain, Flowers for Algernon, yang sudah saya bahas di sini. Sayapun berniat untuk membaca karya-karya Daniel Kayes, dan pergilah saya ke sebuah toko buku diskon untuk membeli SEMUA buku Daniel Keyes. The Touch adalah yang pertama saya baca.

The Touch bercerita tentang Barney Stark, seorang pematung yang bekerja di divisi disain sebuah perusahaan pembuat mobil. Kehidupannya berjalan normal sampai pada satu hari terjadi sebuah bencana di divisi riset di perusahaan tersebut. Telah terjadi kecelakaan yang menyebabkan terjadinya tumpahan radioaktif di laboratorium pusat riset. Dari buku ini saya baru tahu ternyata radiasi—yang berasal dari Iridium 192—diperlukan oleh industri mobil dalam banyak hal seperti untuk melacak ketebalan cat pada bodi mobil, mengecek cacat-cacat pada cetakan, dan lain-lain.

Awalnya pihak perusahaan menyatakan bahwa tumpahan radiasi dapat diatasi dengan tuntas, dan tidak ada debu radioaktif yang tersebar keluar. Namun dengan semua langkah-langkah yang telah diambil, ternyata masih ada juga celah yang terlewatkan. Mereka lupa membersihkan sistem ventilasi. Saat pendingin udara dinyalakan, debu radiasi tertiup ke ruang seorang staf divisi riset, Max Prager, yang selalu pergi ke kantor dan pulang bersama Barney dalam satu mobil. Akhirnya debu radioaktif tersebar ke setiap benda yang Max sentuh, termasuk Barney dan mobilnya. Dan seperti efek domino, Barney-pun menyebarkan debu radioaktif itu ke dalam rumahnya, istrinya, dan semua yang ia sentuh di manapun ia berada.

Mereka akhirnya teradiasi dengan gejala muntah-muntah dan muncul luka bakar pada tubuh mereka. Setelah berita tersebar, merekapun disalahkan atas penyebaran debu radioaktif di seluruh kota. Walaupun di buku ini diceritakan tentang penderitaan fisik yang mereka alami, namun di sini penulisnya lebih menekankan pada penderitaan mental dan psikologis. Di buku ini digambarkan bagaimana rasanya berada pada posisi yang disalahkan oleh semua penduduk kota karena telah menyebarkan radiasi, walaupun sebenarnya ia sama sekali tidak terkait dengan kecelakaan yang menyebabkan tumpahan radioaktif itu, dan ia sendiri sebenarnya tertular debu radioaktif dari orang lain yang kebetulan semobil dengannya. Ditambah lagi istrinya sendiri—yang ternyata sedang mengandung—juga ikut menyalahkannya karena tidak diragukan lagi janin yang dikandungnya pasti juga ikut teradiasi.

Semua perlakuan yang diterima oleh Barney menumbuhkan kebencian yang begitu besar dalam dirinya. Bila seseorang tersakiti karena sesuatu yang tidak ia pahami, tentu harus ada orang yang dipersalahkan. Tapi jika tidak ada orang lain yang bisa disalahkan, maka jalan satu-satunya adalah menyalahkan diri sendiri. Membaca buku ini mungkin akan membuat kita sedikit memahami sebuah kepedihan yang mendalam, gangguan psikologis yang bisa dibilang mendekati gila.

Buku ini cukup menarik, tapi menurut saya kekurangannya adalah buku ini terlalu tipis. Cerita diakhiri ketika istri Barney melahirkan bayi mati, yang sebenarnya sudah mati sejak lama saat masih berada dalam kandungan. Akan lebih baik jika dibuat cerita si bayi akan hidup dengan cacat-cacat akibat radiasi. Bukan karena saya suka dengan penderitaan orang lain, tapi setelah selesai membaca The Touch saya kok merasa ceritanya nanggung. Kalau halamannya ditambah sedikit lagi saja, ceritanya mungkin bisa dieksplorasi lebih dalam lagi. Sayangnya bukan saya yang menulis buku ini... ^___^
Continue reading...

Tuesday, 8 December 2009

Jenius yang Tak Bahagia



Buku Flowers for Algernon adalah novel fiksi ilmiah karya Daniel Keyes, yang ditulis dalam bentuk progress report oleh seorang korban penelitian, Charlie Gordon. Jangan heran jika di halaman-halaman awal akan banyak sekali ditemukan kesalahan penulisan kata. Kata-kata tersebut bukanlah salah ketik ataupun kesalahan editing, namun dalam buku ini, Charlie adalah seseorang yang ber-IQ sangat rendah. Sedangkan Algernon sendiri adalah tikus laboratorium yang dioperasi untuk meningkatkan kecerdasannya, dan berhasil. Peneliti yang melakukan operasi tersebut ingin mencobanya pada manusia, dan akhirnya menemukan Charlie sebagai kelinci percobaan.

Operasi berhasil dilakukan, dan lama-kelamaan IQ Charlie pun meningkat. Charlie berubah dari seorang idiot menjadi super jenius. Charlie mengerti banyak bahasa walaupun tidak pernah mendengar bahasa-bahasa itu sebelumnya. Charlie menjadi tertarik sekali membaca banyak jurnal, seperti jurnal kedokteran, polirik, bahkan astronomi. Charlie menjadi jenius di berbagai bidang, bahkan kecerdasannya melebihi para profesor dan ilmuwan.

Walaupun Charlie adalah seorang super jenius, masa lalunya sebagai seseorang dengan keterbelakangan mental, membuatnya tidak mengerti sama sekali tentang kehidupan. Walaupun cerdas, Charlie tidak tahu apa itu hidup, hubungan sosial, persahabatan, mencintai dan dicintai, bahkan tidak tahu bagaimana cara menangis. Kejeniusannya bahkan membuat banyak orang menjauhinya. Para ilmuwan membencinya karena Charlie jauh lebih jenius dari mereka. Jadilah Charlie si jenius kesepian.

Algernon, si tikus, pun tidak punya interaksi yang baik dengan manusia juga sesama tikus. Lama-kelamaan Algernon kehilangan kontrol, mengalami kemunduran drastis, dan akhirnya mati. Charlie yang mengalami operasi yang sama dengan Algernon merasa bahwa apa yang dialami oleh Algernon akan terjadi padanya juga. Semua yang dialaminya ditulis lengkap dalam
progress report medisnya, yang di akhir laporannya dituliskan bahwa Charlie meminta seseorang untuk menaruh bunga di atas kuburan Algernon.
Continue reading...
A real book is not one that we read, but one that reads us.
W. H. Auden
 

bookcase Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
Cake Illustration Copyrighted to Clarice