welcome!

Don't judge a book from its cover, but you can judge me from the books in my BOOKCASE.
Showing posts with label Yakuza. Show all posts
Showing posts with label Yakuza. Show all posts

Wednesday, 21 April 2010

OUT: Mencari Jalan Keluar atau Lari dari Masalah?



Kekerasan memang bukan jawaban, tapi satu-satunya jawaban. ~ Joseph Stack
Masako Katori, Yayoi Yamamoto, Yoshie Azuma, dan Kuniko Jonouchi adalah empat orang wanita yang bekerja shift malam di sebuah pabrik makanan kotakan di tengah-tengah distrik Musashi-Murayama. Selain mempekerjakan banyak orang Brazil—murni ataupun keturunan Jepang—pabrik tersebut juga menerima para ibu rumah tangga yang ingin bekerja paruh waktu. Di pabrik itu mereka membuat makanan kotakan dengan beberapa menu. Mirip-mirip nasi kotak yang biasa kita makan kalau sedang ada acara tertentu. Bedanya sih makanan kotakan yang mereka buat itu untuk dijual di mini mart untuk sarapan, makan siang, ataupun makan malam.

Masako, Yayoi, Yoshie, Kuniko, dan para pekerja lainnya melakukan pekerjaan yang relatif sama setiap malam. Misalkan untuk membuat kare untuk makan siang, beberapa orang bertugas meratakan nasi, menambah saus kare, mengiris ayam goreng, dan meletakkan irisan ayam di atas kare. Di bagian lain, beberapa orang memasukkan acar ke dalam wadah-wadah kecil, memasang tutup wadah acar, menambahkan sendok, dan memasang tutup kotak makanan. Pekerjaan yang membosankan memang, tapi lumayan untuk menambah penghasilan para ibu rumah tangga seperti Masako, Yayoi, Yoshie, dan Kuniko.


Mereka sebenarnya hanyalah empat orang wanita biasa dengan kehidupan yang berbeda satu sama lain. Namun, satu hal yang membuat mereka sama—tentu saja selain sama-sama bekerja di pabrik makanan kotakan—adalah mereka tidak bahagia.
Masako hidup bersama suami dan anak laki-lakinya. Mereka berkecukupan secara materi, namun hidup tidak seperti layaknya keluarga karena mereka saling tidak peduli satu sama lain. Yayoi adalah wanita muda dan cantik, memiliki suami dan dua orang anak yang masih balita. Yayoi membenci suaminya karena suka berjudi, main perempuan, dan selalu memukulinya. Yoshie adalah janda yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia harus menghidupi anak perempuannya yang suka menghambur-hamburkan uang dan mertuanya yang lumpuh dan sakit-sakitan. Sedangkan Kuniko adalah wanita yang selalu bermimpi jadi orang kaya. Ia terjerat hutang dalam jumlah besar demi memenuhi hobinya membeli barang-barang bermerek.

Hidup mereka berjalan biasa-biasa saja sampai pada akhirnya sesuatu yang buruk terjadi. Suami Yayoi, Kenji Yamamoto, pulang pada larut malam dalam keadaan mabuk dan wajah penuh dengan bekas pukulan. Yayoi yang mencoba menanyakan hal tersebut, malah mendapat pukulan dari suaminya. Berusaha membela diri, Yayoi menjerat leher suaminya dengan tali hingga tewas. Yayoi yang panik lalu meminta bantuan teman-teman perempuannya untuk menyingkirkan mayat suaminya. Akhirnya diputuskan bahwa jalan keluar terbaik adalah dengan memutilasi mayat suaminya dan membuang potongan-potongannya di beberapa lokasi terpisah. Masalahpun terjadi ketika polisi menemukan potongan tubuh suaminya itu di tong sampah di sebuah taman. Yang terjadi selanjutnya membuat mereka tertimpa masalah demi masalah bertubi-tubi.


OUT
adalah salah satu novel kriminal paling keren yang pernah saya baca. Untuk penggemar cerita kriminal, buku ini hukumnya wajib dibaca! Penulisnya, Natsuo Kirino, menjadi pemenang Japan's Grand Prix for Crime Fiction berkat bukunya ini. Jadi tidak diragukan lagi bagaimana kualitas tulisannya. Penulisnya bisa membuat sebuah cerita kriminal yang tidak biasa, dan mampu menggambarkannya dengan sangat gamblang. Saya menyebutnya cerita kriminal yang indah dan artistik. Saya begitu tersedot ke dalam cerita sampai lupa waktu. Buku ini membuat ketagihan. Sekali pegang, dijamin tidak bisa melepaskan buku ini.

Satu hal yang luar biasa dari buku ini adalah saat penulisnya menceritakan—tepatnya menggambarkan—suatu proses mutilasi dengan begitu jelas, tahap per tahap. Alat-alat apa saja yang harus disiapkan, bagian tubuh yang mana yang harus pertama dipotong, bagian-bagian tubuh yang mana yang selanjutnya dipotong, semuanya dijabarkan secara berurutan dan sistematis. Agak vulgar memang, dan bisa berbahaya juga karena bisa menjadi panduan untuk yang ingin melakukannya. Apalagi menurut saya, sebagai seorang penggemar cerita kriminal, mereka yang menyukai cerita kriminal biasanya sedikit "sakit jiwa" seperti saya. Oleh karena itu, para penggemar cerita kriminal punya kecenderungan lebih untuk melakukan tindak kriminal. Sudah terbukti tidak sedikit mereka yang melakukan pembunuhan mendapat panduan dari buku kriminal yang dibacanya.


Tidak kalah hebatnya juga, sang penulis di bukunya ini menjadikan mutilasi sebagai lahan bisnis. Dalam buku ini diceritakan bagaimana akhirnya polisi menemukan potongan tubuh Kenji Yamamoto di tong sampah di sebuah taman. Walaupun Masako, Yayoi, Yoshie, dan Kuniko sempat ditanyai oleh petugas polisi, namun yang menjadi tersangkanya adalah seorang anggota Yakuza. Merasa bisa lepas dari tuduhan, dan dengan keyakinan bahwa polisi tidak akan mencurigai ibu rumah tangga, merekapun akhirnya menjadikan mutilasi sebagai tambang uang dengan menawarkan jasa mutilasi kepada para penjahat yang ingin menghilangkan jejak pembunuhan. Sungguh luar biasa!

Continue reading...

Saturday, 19 December 2009

Mengejar Kebenaran di Tokyo


Tentara Jepang melakukan pembantaian besar-besaran di Nanking saat mereka melakukan invasi ke China pada tahun 1937. Mereka melakukan pemerkosaan, perampasan, pembakaran, serta eksekusi terhadap tawanan perang dan penduduk sipil. Ini merupakan peristiwa paling tragis yang dialami bangsa China. Karena kekejamannya di Nanking, seorang letnan Jepang bernama Junzo Fuyuki mendapat julukan yanwangye— si Iblis.

Tokyo ditulis oleh penulis yang terkenal dengan novel-novel thrillernya, Mo Hayder. Hayder biasanya menulis novel-novel kriminal, dan walaupun Tokyo ditulis dengan memasukkan latar belakang sejarah, hasilnya tidak mengecewakan. Tokyo adalah buku wajib baca untuk penggemar cerita history-thriller.

Tokyo secara gamblang menggambarkan sejarah pendudukan Jepang di China, khususnya di daerah Nanking. Di buku ini diceritakan betapa kejamnya bangsa Jepang pada saat itu, di mana Jepang melakukan pembantaian yang sangat kejam di Nanking. Tentara Jepang membunuh penduduk Nanking, menumpuk mayat-mayat penduduk Nanking menjadi bukit mayat yang mengerikan, dan membakar habis desa mereka. Pembantaian di Nanking benar-benar menjadi sejarah pahit bagi Jepang dan China.

Walaupun banyak sekali flashback dalam buku ini, tapi alurnya sama sekali tidak membingungkan. Ceritanya berlatar tahun 1990, saat tokoh yang bernama Grey datang jauh-jauh datang dari London ke Tokyo, tinggal di apartemen kumuh, dan bekerja sebagai perempuan penghibur di club malam untuk membiayai hidupnya di Jepang, demi untuk mengungkap kebenaran pembantaian keji di Nanking pada tahun 1937. Keinginannya untuk mencari kebenaran sejarah di Tokyo, sudah menjadi obsesi seumur hidupnya. Bahkan obsesinya ini membuatnya terlibat masalah dengan bos Yakuza—mafia Jepang—yang melakukan banyak pembunuhan kejam terhadap orang-orang di sekitar Grey.

Kebenaran yang dicarinya di Tokyo ada pada seorang profesor di Universitas Todai, yang merupakan saksi hidup peristiwa pembantaian di Nanking. Obsesinya dalam mendapatkan jawaban atas semua pertanyaannya akan sejarah di Nanking menunjukkan bahwa kebenaran haruslah diungkapkan betapapun pahitnya, dan kebenaran ada dalam sejarah.
Continue reading...
A real book is not one that we read, but one that reads us.
W. H. Auden
 

bookcase Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
Cake Illustration Copyrighted to Clarice