welcome!

Don't judge a book from its cover, but you can judge me from the books in my BOOKCASE.

Wednesday, 21 April 2010

OUT: Mencari Jalan Keluar atau Lari dari Masalah?



Kekerasan memang bukan jawaban, tapi satu-satunya jawaban. ~ Joseph Stack
Masako Katori, Yayoi Yamamoto, Yoshie Azuma, dan Kuniko Jonouchi adalah empat orang wanita yang bekerja shift malam di sebuah pabrik makanan kotakan di tengah-tengah distrik Musashi-Murayama. Selain mempekerjakan banyak orang Brazil—murni ataupun keturunan Jepang—pabrik tersebut juga menerima para ibu rumah tangga yang ingin bekerja paruh waktu. Di pabrik itu mereka membuat makanan kotakan dengan beberapa menu. Mirip-mirip nasi kotak yang biasa kita makan kalau sedang ada acara tertentu. Bedanya sih makanan kotakan yang mereka buat itu untuk dijual di mini mart untuk sarapan, makan siang, ataupun makan malam.

Masako, Yayoi, Yoshie, Kuniko, dan para pekerja lainnya melakukan pekerjaan yang relatif sama setiap malam. Misalkan untuk membuat kare untuk makan siang, beberapa orang bertugas meratakan nasi, menambah saus kare, mengiris ayam goreng, dan meletakkan irisan ayam di atas kare. Di bagian lain, beberapa orang memasukkan acar ke dalam wadah-wadah kecil, memasang tutup wadah acar, menambahkan sendok, dan memasang tutup kotak makanan. Pekerjaan yang membosankan memang, tapi lumayan untuk menambah penghasilan para ibu rumah tangga seperti Masako, Yayoi, Yoshie, dan Kuniko.


Mereka sebenarnya hanyalah empat orang wanita biasa dengan kehidupan yang berbeda satu sama lain. Namun, satu hal yang membuat mereka sama—tentu saja selain sama-sama bekerja di pabrik makanan kotakan—adalah mereka tidak bahagia.
Masako hidup bersama suami dan anak laki-lakinya. Mereka berkecukupan secara materi, namun hidup tidak seperti layaknya keluarga karena mereka saling tidak peduli satu sama lain. Yayoi adalah wanita muda dan cantik, memiliki suami dan dua orang anak yang masih balita. Yayoi membenci suaminya karena suka berjudi, main perempuan, dan selalu memukulinya. Yoshie adalah janda yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia harus menghidupi anak perempuannya yang suka menghambur-hamburkan uang dan mertuanya yang lumpuh dan sakit-sakitan. Sedangkan Kuniko adalah wanita yang selalu bermimpi jadi orang kaya. Ia terjerat hutang dalam jumlah besar demi memenuhi hobinya membeli barang-barang bermerek.

Hidup mereka berjalan biasa-biasa saja sampai pada akhirnya sesuatu yang buruk terjadi. Suami Yayoi, Kenji Yamamoto, pulang pada larut malam dalam keadaan mabuk dan wajah penuh dengan bekas pukulan. Yayoi yang mencoba menanyakan hal tersebut, malah mendapat pukulan dari suaminya. Berusaha membela diri, Yayoi menjerat leher suaminya dengan tali hingga tewas. Yayoi yang panik lalu meminta bantuan teman-teman perempuannya untuk menyingkirkan mayat suaminya. Akhirnya diputuskan bahwa jalan keluar terbaik adalah dengan memutilasi mayat suaminya dan membuang potongan-potongannya di beberapa lokasi terpisah. Masalahpun terjadi ketika polisi menemukan potongan tubuh suaminya itu di tong sampah di sebuah taman. Yang terjadi selanjutnya membuat mereka tertimpa masalah demi masalah bertubi-tubi.


OUT
adalah salah satu novel kriminal paling keren yang pernah saya baca. Untuk penggemar cerita kriminal, buku ini hukumnya wajib dibaca! Penulisnya, Natsuo Kirino, menjadi pemenang Japan's Grand Prix for Crime Fiction berkat bukunya ini. Jadi tidak diragukan lagi bagaimana kualitas tulisannya. Penulisnya bisa membuat sebuah cerita kriminal yang tidak biasa, dan mampu menggambarkannya dengan sangat gamblang. Saya menyebutnya cerita kriminal yang indah dan artistik. Saya begitu tersedot ke dalam cerita sampai lupa waktu. Buku ini membuat ketagihan. Sekali pegang, dijamin tidak bisa melepaskan buku ini.

Satu hal yang luar biasa dari buku ini adalah saat penulisnya menceritakan—tepatnya menggambarkan—suatu proses mutilasi dengan begitu jelas, tahap per tahap. Alat-alat apa saja yang harus disiapkan, bagian tubuh yang mana yang harus pertama dipotong, bagian-bagian tubuh yang mana yang selanjutnya dipotong, semuanya dijabarkan secara berurutan dan sistematis. Agak vulgar memang, dan bisa berbahaya juga karena bisa menjadi panduan untuk yang ingin melakukannya. Apalagi menurut saya, sebagai seorang penggemar cerita kriminal, mereka yang menyukai cerita kriminal biasanya sedikit "sakit jiwa" seperti saya. Oleh karena itu, para penggemar cerita kriminal punya kecenderungan lebih untuk melakukan tindak kriminal. Sudah terbukti tidak sedikit mereka yang melakukan pembunuhan mendapat panduan dari buku kriminal yang dibacanya.


Tidak kalah hebatnya juga, sang penulis di bukunya ini menjadikan mutilasi sebagai lahan bisnis. Dalam buku ini diceritakan bagaimana akhirnya polisi menemukan potongan tubuh Kenji Yamamoto di tong sampah di sebuah taman. Walaupun Masako, Yayoi, Yoshie, dan Kuniko sempat ditanyai oleh petugas polisi, namun yang menjadi tersangkanya adalah seorang anggota Yakuza. Merasa bisa lepas dari tuduhan, dan dengan keyakinan bahwa polisi tidak akan mencurigai ibu rumah tangga, merekapun akhirnya menjadikan mutilasi sebagai tambang uang dengan menawarkan jasa mutilasi kepada para penjahat yang ingin menghilangkan jejak pembunuhan. Sungguh luar biasa!

Continue reading...

Sunday, 7 February 2010

Ide Brilian Ada di Bawah Pohon


Ada hal yang menarik yang saya temukan ketika membaca buku Middlesex karya Jeffrey Eugenides. Buku ini sudah saya bahas di tulisan saya sebelumnya. Untuk membacanya kembali, silakan lihat di sini.

Dari buku tersebut, saya sadar bahwa kita janganlah suka memandang sebelah mata pada orang yang sedang ngaso di bawah pohon. Jangan menilainya sedang bermalas-malasan saja di bawah pohon. Selain sedang istirahat, atau mungkin sekadar cari angin, mungkin dia juga sedang mencari inspirasi besar yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh siapapun juga.

Menurut legenda China kuno, suatu hari Putri Si Ling-chi sedang duduk-duduk santai di bawah pohon murbei sambil minum teh. Tiba-tiba sebutir (atau sebuah, ya?) kepompong ulat sutra jatuh ke dalam cangkir tehnya. Sang Putri berusaha mengeluarkan kepompong itu dari cangkirnya, namun ia sadar kepompong itu mengembang dan mulai terbuka di dalam air tehnya yang panas. Kepompong itu ternyata berubah menjadi helaian benang. Sang Putri lalu memegang salah satu ujung benang itu, dan menyuruh seorang dayang untuk memegang ujung satunya lagi sambil terus berjalan untuk mengurai benang itu.
         mencoba mencari inspirasi di bawah pohon                  Pelayan itu berjalan melewati kamar

tidur sang Putri, memasuki halaman istana, dan melewati gerbang istana sampai keluar dari Forbidden City (Kota Terlarang), dan akhirnya tiba di daerah perkampungan yang jaraknya setengah mil dari istana. Itulah awal mula ditemukannya kain sutra China yang terkenal ke seantero dunia. 

Cerita itu mungkin tidak banyak yang tahu. Tapi pasti semua orang tahu cerita tentang bagaimana Sir Isaac Newton—seorang ahli fisika, matematika, astronomi, dan filsafat—menemukan Hukum Gravitasi, yang mengubah pandangan orang terhadap hukum fisika alam dan menjadi dasar dari ilmu pengetahuan modern. Semua itu berasal dari pohon apel, saat Newton sedang duduk-duduk santai di bawahnya. Pada saat itu, tiba-tiba saja sebutir (atau ini juga sebuah, ya?) apel jatuh menimpa kepalanya. Dari apel yang jatuh itu, Newton mengambil kesimpulan bahwa ada suatu kekuatan yang menarik apel tersebut jatuh ke bawah, dan kekuatan itu yang kita kenal sekarang dengan nama gravitasi.

Nah, buat yang lagi buntu, lagi butuh ide, inspirasi, ilham, atau mungkin bisikan-bisikan gaib, sok silakan cari pohon terdekat.
Continue reading...

Saturday, 19 December 2009

Mengejar Kebenaran di Tokyo


Tentara Jepang melakukan pembantaian besar-besaran di Nanking saat mereka melakukan invasi ke China pada tahun 1937. Mereka melakukan pemerkosaan, perampasan, pembakaran, serta eksekusi terhadap tawanan perang dan penduduk sipil. Ini merupakan peristiwa paling tragis yang dialami bangsa China. Karena kekejamannya di Nanking, seorang letnan Jepang bernama Junzo Fuyuki mendapat julukan yanwangye— si Iblis.

Tokyo ditulis oleh penulis yang terkenal dengan novel-novel thrillernya, Mo Hayder. Hayder biasanya menulis novel-novel kriminal, dan walaupun Tokyo ditulis dengan memasukkan latar belakang sejarah, hasilnya tidak mengecewakan. Tokyo adalah buku wajib baca untuk penggemar cerita history-thriller.

Tokyo secara gamblang menggambarkan sejarah pendudukan Jepang di China, khususnya di daerah Nanking. Di buku ini diceritakan betapa kejamnya bangsa Jepang pada saat itu, di mana Jepang melakukan pembantaian yang sangat kejam di Nanking. Tentara Jepang membunuh penduduk Nanking, menumpuk mayat-mayat penduduk Nanking menjadi bukit mayat yang mengerikan, dan membakar habis desa mereka. Pembantaian di Nanking benar-benar menjadi sejarah pahit bagi Jepang dan China.

Walaupun banyak sekali flashback dalam buku ini, tapi alurnya sama sekali tidak membingungkan. Ceritanya berlatar tahun 1990, saat tokoh yang bernama Grey datang jauh-jauh datang dari London ke Tokyo, tinggal di apartemen kumuh, dan bekerja sebagai perempuan penghibur di club malam untuk membiayai hidupnya di Jepang, demi untuk mengungkap kebenaran pembantaian keji di Nanking pada tahun 1937. Keinginannya untuk mencari kebenaran sejarah di Tokyo, sudah menjadi obsesi seumur hidupnya. Bahkan obsesinya ini membuatnya terlibat masalah dengan bos Yakuza—mafia Jepang—yang melakukan banyak pembunuhan kejam terhadap orang-orang di sekitar Grey.

Kebenaran yang dicarinya di Tokyo ada pada seorang profesor di Universitas Todai, yang merupakan saksi hidup peristiwa pembantaian di Nanking. Obsesinya dalam mendapatkan jawaban atas semua pertanyaannya akan sejarah di Nanking menunjukkan bahwa kebenaran haruslah diungkapkan betapapun pahitnya, dan kebenaran ada dalam sejarah.
Continue reading...

Wednesday, 16 December 2009

Middlesex: Genetik XY, Fisik XX



Buku ini keren sekali! Sumpah keren sekali!

Middlesex, karya Jeffrey Eugenides, adalah buku international bestseller, pemenang Pulitzer Prize—penghargaan tertinggi di bidang jurnalisme cetak, dan menjadi buku pilihan di Oprah's Book Club.

Saya beruntung sekali bisa memiliki buku ini, apalagi mendapatkannya dengan gratis. Maka dari itu, alangkah tidak tahu dirinya saya kalau tidak berterima kasih pada teman saya, yang telah ridho bin rhoma memberikan bukunya—yang jauh-jauh didapatkannya dari menonton Kick Andy di Jakarta—kepada saya. Nuhun pisan. Kamu baik sekali, Ty!

Middlesex menceritakan tentang Calliope Stephanides—seorang yang berkelamin ganda—yang besar di pinggiran kota Detroit di tahun 1960an. Selama empat belas tahun Cal menjalani kehidupan sebagai anak perempuan. Suatu hari Cal mengalami kecelakaan yang membuatnya masuk rumah sakit, dan dokter yang menanganinya menemukan bahwa dia (juga) adalah seorang laki-laki.

Cal adalah seorang pseudohermaphrodite laki-laki, atau seseorang yang secara genetis adalah laki-laki, namun secara fisik perempuan. Dari tes endokrin, diketahui bahwa Cal mempunyai kromosom XY, level testosteron yang tinggi, dengan kurangnya enzim 5-alpha-reductase sehingga tubuhnya tidak memproduksi dihydrotestosteron. Artinya, ketika dalam rahim, ia mengalami perkembangan kelamin perempuan seperti pada umumnya. Namun, setelah memasuki masa puber, hormon testosteron mengambil alih peran perkembangan seksualnya.

Pertanyaan bagaimana bisa Cal menjadi seorang hermaprodit terurai dari sejarah dan asal usul keluarganya yang melakukan incest, atau perkawinan sedarah. Dampak perkawinan antarsaudara itu tidak muncul pada turunan-turunan sebelumnya, sampai akhirnya Cal yang mendapat getahnya. Kromosom kelimanya yang bermutasi resesif memaksanya menjalani kehidupan dan pendewasaan sebagai manusia berkelamin ganda.
Continue reading...

Wednesday, 9 December 2009

The Catcher in The Rye dan Gangguan Jiwa Bernama Post-Traumatic Stress Disorder



The Catcher in The Rye digambarkan sebagai bacaan favorit para remaja anti-sosial sampai psikopat. Kontroversi seputaran buku karangan J.D. Salinger yang diterbitkan pada tahun 1945 mengakibatkan buku ini dilarang beredar di Amerika Serikat karena isinya yang dianggap memicu tindakan negatif pada diri remaja.

Tokoh utamanya bernama Holden Caulfield, 17 tahun, seorang siswa sekolah lanjutan tingkat atas yang baru saja dikeluarkan dari Pencey Prep, sekolah ketiganya, sebelum dia dikeluarkan dari Elkton Hills dan Whooton School. Buku ini menceritakan petualangan, atau lebih tepatnya kekacauan, yang dialami Holden sejak dia meninggalkan Pencey dan memutuskan untuk tinggal di sebuah hotel dan berkeliaran di seputaran New York sebelum ia pulang ke rumah.

Salinger menggambarkan kehidupan Holden sebagai penghuni kelas atas New York, sehingga dengan uang yang dimilikinya, dia bisa berkeliaran di bar-bar mewah New York. Namun segala kelebihan yang ia miliki tidak dapat membebaskan dirinya dari pikiran-pikiran pesimis dan pandangan sinis terhadap dunia dan orang-orang disekitarnya. Holden membayangkan masa depannya “apabila tidak berakhir dengan bunuh diri, maka akan berakhir di rumah sakit jiwa”.

Awal dari sikap sarkastik Holden digambarkan ketika ia mengalami trauma setelah kematian adiknya, Allie, akibat kanker pada saat Holden berusia 13 tahun. Kondisi ini diperburuk dengan perubahan drastis sikap kakaknya D.B., yang baru pulang dari medan perang dan sejumlah kejadian di sekolahnya yang menyebabkan kehidupan sosialnya semakin terpuruk. Seperti ketika ia menyaksikan kematian teman sekelasnya, James Castle, yang melompat dari kamarnya karena diganggu oleh sekelompok siswa, namun para pelakunya tidak dikenai hukuman apapun.

Holden mengalami sebuah kondisi yang oleh American Psychiatric Association disebut sebagai Post-Traumatic Stess Disorder (PTSD) yang merupakan trauma kronis terhadap suatu kejadian yang dialami penderita. The Catcher in The Rye dapat dikatakan sebagai pionir penulisan novel yang menggambarkan narator atau orang pertamanya sebagai penderita PTSD, dan kita dipaksa untuk memasuki alam pikirannya yang kacau balau dan antah berantah. Dalam kasus Holden, ia beruntung memiliki adik perempuan, Phoebe, yang merupakan satu-satunya penghubung antara pikirannya dengan dunia luar.

The Catcher in The Rye merupakan karya terpopuler Salinger, karena walaupun sempat dilarang namun buku ini memiliki sejumlah penggemar yang menjadikannya sebagai panduan hidup atau dikalangan penggemar fanatiknya lebih dikenal dengan istilah “Holden Bible”.

Kontroversi novel Salinger ini kemudian menjadi sumber inspirasi bagi para penulis tentang PTSD yang terbit sesudahnya seperti Sylvia Plath, dan menginspirasi sejumlah band untuk membuat lagu yang didasarkan pada karakter Holden, salah satunya yaitu Greenday dalam Jesus of Suburbia. Bahkan penggemar fanatik John Lennon yang kemudian menembaknya, Mark David Chapman, ketika ditangkap polisi membawa novel karya Salinger ini, dan mengaku telah habis membacanya tepat pada pagi dimana ia menembak Lennon.

(Ally, penulis bukanlah seorang psikolog, cuma seorang sok tahu yang ingin memaparkan sedikit tentang buku favoritnya).
Continue reading...

Tuesday, 8 December 2009

Jenius yang Tak Bahagia



Buku Flowers for Algernon adalah novel fiksi ilmiah karya Daniel Keyes, yang ditulis dalam bentuk progress report oleh seorang korban penelitian, Charlie Gordon. Jangan heran jika di halaman-halaman awal akan banyak sekali ditemukan kesalahan penulisan kata. Kata-kata tersebut bukanlah salah ketik ataupun kesalahan editing, namun dalam buku ini, Charlie adalah seseorang yang ber-IQ sangat rendah. Sedangkan Algernon sendiri adalah tikus laboratorium yang dioperasi untuk meningkatkan kecerdasannya, dan berhasil. Peneliti yang melakukan operasi tersebut ingin mencobanya pada manusia, dan akhirnya menemukan Charlie sebagai kelinci percobaan.

Operasi berhasil dilakukan, dan lama-kelamaan IQ Charlie pun meningkat. Charlie berubah dari seorang idiot menjadi super jenius. Charlie mengerti banyak bahasa walaupun tidak pernah mendengar bahasa-bahasa itu sebelumnya. Charlie menjadi tertarik sekali membaca banyak jurnal, seperti jurnal kedokteran, polirik, bahkan astronomi. Charlie menjadi jenius di berbagai bidang, bahkan kecerdasannya melebihi para profesor dan ilmuwan.

Walaupun Charlie adalah seorang super jenius, masa lalunya sebagai seseorang dengan keterbelakangan mental, membuatnya tidak mengerti sama sekali tentang kehidupan. Walaupun cerdas, Charlie tidak tahu apa itu hidup, hubungan sosial, persahabatan, mencintai dan dicintai, bahkan tidak tahu bagaimana cara menangis. Kejeniusannya bahkan membuat banyak orang menjauhinya. Para ilmuwan membencinya karena Charlie jauh lebih jenius dari mereka. Jadilah Charlie si jenius kesepian.

Algernon, si tikus, pun tidak punya interaksi yang baik dengan manusia juga sesama tikus. Lama-kelamaan Algernon kehilangan kontrol, mengalami kemunduran drastis, dan akhirnya mati. Charlie yang mengalami operasi yang sama dengan Algernon merasa bahwa apa yang dialami oleh Algernon akan terjadi padanya juga. Semua yang dialaminya ditulis lengkap dalam
progress report medisnya, yang di akhir laporannya dituliskan bahwa Charlie meminta seseorang untuk menaruh bunga di atas kuburan Algernon.
Continue reading...

Benarkah CIA Terlibat Dalam Tragedi G 30 S/PKI?



"Mungkin kami memang terlibat dalam peristiwa itu. Saya sudah lupa..." -- William Colby, Direktur CIA Divisi Asia Tenggara periode 1962-1967.

Kebenaran bisa dicari dalam sejarah. Tapi bagaimana jika kebenaran sejarah itu sendiri masih dipertanyakan? Seperti Gerakan 30 September 1965, di mana para Jenderal TNI dibantai oleh PKI dan dibuang ke dalam lubang buaya. Banyak hal yang masih menjadi tanda tanya sampai sekarang mengenai peristiwa tersebut.

Mengapa PKI melakukan kudeta padahal pada saat itu Presiden Soekarno anti Barat dan lebih "sayang" pada China yang komunis? Pasti PKI punya posisi istimewa pada saat itu. Tapi mengapa mereka berkhianat?
Apakah Untung dan Aidit hanyalah alat dari pembantaian itu? Mungkin memang ada kekuatan besar di belakang mereka.
Benarkah CIA berencana membunuh Soekarno karena kedekatannya dengan komunis, seperti saat CIA membayar $ 42,000 untuk pembunuhan Presiden Vietnam Selatan, Ngo Dien Diem, atas persetujuan Presiden Kennedy?
Mengapa Soeharto lolos dari pembantaian 30 September, sedangkan Jenderal lainnya terbunuh?
Lalu apa hubungan Adam Malik dengan CIA dan Hubert Horatio Humphrey, Wakil Presiden Amerika Serikat pada saat itu?

Kabur. Tidak ada jawaban yang pasti. Yang pasti hanyalah, "Darah itu merah, Bung!"

The Forgotten Massacre ditulis oleh Peer Holm Jorgensen, seorang pelaut Denmark yang sudah berkeliling dunia dengan kapal dagang sejak umur 16 tahun. Dari perjalanannya tersebut, dia memperoleh pandangan dan pemikiran yang luas dan dalam tentang keragaman jenis politik, karakter masyarakat di seluruh dunia, pada masa dunia sedang sibuk dengan konflik internasional. Dan buku ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadinya ketika berada di Indonesia tahun 1965. Novel ini mengajak kita memandang Tragedi G 30 S/PKI dari kacamata orang asing dan dari sisi yang lebih humanis.

Biasanya orang Indonesia tidak begitu suka membaca tulisan orang asing mengenai Indonesia. Namun di sini penulis menunjukkan kecintaannya pada Indonesia dan masyarakatnya. Dalam buku ini kita akan banyak menemukan "pembelaan"nya atas keadaan yang terjadi di Indonesia. Menurutnya Indonesia indah dengan masyarakat yang ramah. Bahkan di buku ini ditegaskan bahwa Indonesia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki negara-negara lain di dunia.

Selain menunjukkan simpati pada Indonesia, di sini penulis jelas-jelas mengutuk penjajahan yang dilakukan oleh bangsa kulit putih. Ada yang salah dengan bangsa kulit putih. Penyakit apa yang mereka derita? Mengapa kekuasaan begitu penting? Mengapa begitu penting merampok orang-orang lain dari tanah dan negara mereka?

Dalam buku ini juga diungkapkan rasa kebencian penulis terhadap orang Inggris, Belanda, Jerman, dan bangsa apapun lainnya yang pergi untuk mencuri tanah orang lain, menindas mereka, memaksa meraka untuk mempercayai Tuhan tertentu yang mungkin sama sekali bukan Tuhan mereka, mencuri kekayaan mereka, menjadikan mereka budak, dan membiarkan mereka terus miskin. Termasuk juga kebenciannya pada Jepang, yang telah memperkosa Indonesia.

Bukan hanya itu. Ada hal menarik yang disinggung dalam buku ini, yaitu mengenai ketertarikan pada sesama jenis atau homoseksualitas. Di sini si penulis menanyakan kok bisa perempuan bisa tahu jika seorang pria itu homoseksual. Apakah perempuan punya indra keenam atau ketujuh?
*haha.. belum tau dia!! tanya ke si gue!*
Continue reading...

Swangoing: Poisonous Method of Studying



poisoning is the most intelligent form of murder

BLIND EYE is a book written by James B. Stewart, the winner of the Pulitzer Prize. Blind Eye is a true story about Michael Swango, a serial killer, was suspected of having fatally poisoned more than 60 people between 1984 and 1997 as an intern or resident at a number of hospitals and health-care establishments. He may have poisoned and killed patients under his care over the past 10 years when he worked in Ohio, Quincy, Massachusetts, Virginia, South Dakota, New York, and Zimbabwe. In all those places, this affable doctor had been suspected in a number of deaths and sudden illnesses.

Swango did not often vary his methods of murder. With non-patients, such as his co-workers at the paramedic service, he used poisons, usually arsenic, slipping them into foods and beverages. With patients, he sometimes used poisons as well, but usually he administered an overdose of whichever drug the patient had been prescribed, or wrote false prescriptions for dangerous drugs for his patients.

When he was in medical school, he used to study while racing into the hall. Instead of studying days or weeks before the exams like the other students, he studied between exams. His classmates and lecturers called this method of studying as "swangoing" or "to swango". Now we all know it as "study in the last minutes", or "SKS:
Sistem Kebut Semalam".

After finishing my exams, i heard someone said "Goddamn SKS!" Oh.. you really don't know how great swangoing is. I am a BIG fan of swangoing. I always do my assignments and study for exams a night before, and sometimes couple hours before. I always do that because I know something good about swangoing: it is POISONOUS! Swangoing kills. Everytime I do swangoing, I am always scared of failing. But that is what I like most. I love that poison. That sensation, you know.. makes me live, energizes me.


Michael Swango was a murderer, and I know that I could be murdered, not by him but by his swangoing. And everytime I saved, I felt EXTREMELY satisfied.
Continue reading...
A real book is not one that we read, but one that reads us.
W. H. Auden
 

bookcase Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
Cake Illustration Copyrighted to Clarice